Minggu, 30 Oktober 2011

Problematika Mahasiswa, Manajemen Waktu Kuliah dan Organisasi

Problematika Mahasiswa, Manajemen Waktu Kuliah dan Organisasi


  • Label:

  • Markup Validation Service
    Seorang mahasiswa akan memperoleh nilai
    tambah, jika ia tidak hanya sibuk dengan
    nilai akademis tetapi juga aktif
    berorganisasi. Mengapa dikatakan nilai
    tambah? Karena dengan berorganisasi, ia
    bakal terbiasa bekerjasama dengan orang
    lain (work as a team), memiliki jiwa
    kepemimpinan (work as a leader), terbiasa
    bekerja dengan manajemen (work with
    management). Di masa depan, skill
    tersebut sangat dibutuhkan ketika
    memasuki dunia yang sebenarnya. Tetapi.....


    kadang seorang mahasiswa aktivis
    organisasi menemui kendala dalam
    membagi waktu antara kuliah dan
    organisasi. Ada beberapa tips yang dapat
    diterapkan:

    1. Tentukan atau renungi kembali visi
    hidupmu
    Visi adalah pandangan ke depan yang
    menggambarkan jadi apa kamu kelak. Misi
    adalah hal-hal yang dilakukan untuk
    mencapai visi. Visi adalah jawaban atas
    pertanyaan,
    “Apa yang paling penting bagimu?”,
    “Apa yang memberi makna dalam
    hidupmu?”, “Kamu ingin jadi apa dan
    apa yang ingin kamu lakukan dalam
    hidupmu?” Jadi, bila visimu adalah
    “Mahasiswa Plus”, memang seharusnya
    kamu merencanakan dan mengatur
    segalanya
    2. Aturlah hal-hal berikut:
    a. Waktu.
    Biasakan memenej perencanaan waktu.
    Buatlah jadwal kuliah dan kegiatan
    organisasi dalam satu timeline yang detail
    – baik hari, jam, dan tempatnya. Kamu bisa
    menulisnya di ponsel atau di buku agenda.
    b. Prioritas
    • Kuadran I:
    Dahulukan yang penting dan mendesak,
    yaitu: krisis-krisis, pekerjaan –pekerjaan
    yang memiliki deadline, sakit atau
    kecelakaan- dan harus segera ke dokter,
    dsb.
    • Kuadran II:
    Penting tapi tidak mendesak. Ini adalah
    kuadran kualitas. Perencanaan jangka
    panjang, mengantisipasi dan
    menanggulangi masalah-masalah,
    memberi wewenang pada orang lain,
    memperluas cakrawala berpikir (membaca
    buku, surfing internet), membangun
    hubungan sosial (menengok orang sakit,
    menghadiri undangan perkawinan, dll).
    • Kuadran III:
    Bayang-bayang dari Kuadran I. Kuadran ini
    seesungguhnya, tidak penting tetapi
    kadang penting lagi mendesak. Kuadran III
    adalah kuadran tipuan. Jangan salah nilai!
    Kita kerap mengira aktivitas tertentu
    adalah aktivitas Kuadran I yang mana
    kadang terlihat mendesak, padahal tidak
    (telepon yang berdering, bunyi sms,
    kunjungan tamu dadakan). Kalaupun
    penting, mungkin bagi orang lain – but
    might be not for you.
    • Kuadran IV:
    Kuadran pemborosan. Ini terjadi karena
    kita sering terjebak pada Kuadran I dan III
    sehingga kita sering melarikan diri ke
    Kuadran IV untuk bertahan; nonton TV/
    VCD/main game hingga kecanduan,
    membaca novel picisan hingga “muak”,
    ngerumpi tanpa batas.
    Cobalah senantiasa mencermati
    prioritasmu dan usahakan selalu berada di
    Kuadran II dan sekali di Kuadran I –jika
    memang sangat mendesak. Jangan tertipu
    dan terjebak di Kuadran III dan IV.
    c. Komunikasi.
    Biasakan bersikap dan berkomunikasi
    asertif. Contoh: besok, kamu menghadapi
    ujian semester. Akan tetapi, kamu juga
    memiliki agenda rapat yang – nampaknya-
    mendesak. Dalam situasi ini, kamu harus
    berani mengatakan tidak –tapi tetap dalam
    koridor kesantunan. Ujian semester adalah
    Kuadran I, sedangkan rapat organisasi,
    boleh jadi, penting bagi orang lain, tapi
    mungkin tidak bagimu. Rapat bisa diganti
    waktu lain, namun ujian semester tidak
    bisa.

    d. Jangan menunda pekerjaan.
    Menunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk
    dan tidak bertanggungjawab yang
    menyebabkan kita kerap terjebak pada
    Kuadran I secara membabibuta. Kita bisa
    tiba-tiba merasa semua pekerjaan pada
    deadline-nya. Padahal jika kita terbiasa
    mencicil pekerjaan-pekerjaan yang
    diamanahkan atau dibebankan pada kita,
    tidak akan berakhir sedemikian naasnya.
    Biasakanlah setiap hari: membaca kembali
    kuliah yang diberikan dosen, meringkas
    buku diktat kuliah, merencanakan kegiatan
    setiap hari. Meski terasa berat di awal,
    namun kamu bakal memetik hasil yang
    menyenangkan di bagian akhir dalam
    hidupmu, Insya Allah.
    Sumber: Annida, No.8/XVII, April 2008
    Rubrik Studia bersama psikolog Setiawati
    Intan Savitri

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar